Cina Batuk, Indonesia Tersungkur | Indonesian Review

14 – Started Mar 4th, 2016 – Ended Sep 15th, 2016The seed for Wide00014 was:

– Top ranked pages (up to a max of 100) from every linked-to domain using the Wide00012 inter-domain navigational link graph

— a ranking of all URLs that have more than one incoming inter-domain link (rank was determined by number of incoming links using Wide00012 inter domain links)

— up to a maximum of 100 most highly ranked URLs per domain The seed list contains a total of 431,055,452 URLsThe seed list was further filtered to exclude known porn, and link farm, domainsThe modified seed list contains a total of 428M URLs

March 18, 2016       March 6, 2015      21:35You are hereEKONOMIMakro Ekonomi Cina Batuk, Indonesia TersungkurGigin PraginantoEKONOMIMakro EkonomiLike

77261401 Ketika Indonesia makin ruwet IndonesianReview.com — Ekonomi Cina terus memburuk, Asia terpuruk, Indonesia kalang kabut. Indonesia harus mencari pasar baru, dan menghentikan ‘ketagihan’ ekspor ke Cina.

Keberadaan Cina sebagai pasar terbesar di Asia, dan kedua di dunia memang harus diakui. Maka, bila perekonomian Cina mendingin, pemerintah Indonesia tak punya pilihan selain berkerja lebih keras untuk membuka pasar baru. Persiapan serius jelas harus dilakukan untuk menghadapi persaingan yang kian ketat dan ganas.

Untuk semua itu, pemerintah tak punya pilihan lain selain memberantas pungutan liar, deregulasi dan debirokratisasi, dan menegakkan kepastian hukum. Tanpa semua ini, mustahil Indonesia bisa memenangi persaingan, apalagi bila dilihat dari daya saing ekonomi dan kenyamanan sebagai tempat bisnis sudah kalah dari para tetangga: Singapura, Malaysia , dan Thailand.

Berdasarkan survei Bank Dunia tentang kenyamanan berbisnis, sampai Juni tahun Indonesia berada di peringkat 114. Peringkat teratas diduduki oleh Singapura, Malaysia di peringkat 18, dan Thailand pada peringkat 26. Sedangkan dalam peringkat daya saing ekonomi dunia 2014-2015, menurut World Economic Forum, Singapura berada di peringkat kedua. Malaysia di peringkat 20, Thailand peringkat 31, dan Indonesia peringkat 34.

Tapi ternyata presiden Jokowi memilih jalan berlawanan. Pada 5 Maret 2015, Jokowi bahkan mengeluarkan peraturan presiden nomer 26, yang memberi wewenang istimewa kepada kepala staf kepresidenan, Luhut Binsar Panjaitan. Berdasarkan Kepres tersebut, Luhut  bisa bertindak sebagai supermenteri meski bukan anggota kabinet. Perpres ini memberi wewenang khusus kepada Luhut untuk mengendalikan program-program pemerintah yang menjadi prioritas nasional, dan berhak memanggil menteri.

Kritik sudah berhamburan dari para hukum tata negara. Mereka bahkan menganggap poisisi kepala staf kepresidenan tak diperlukan karena sudah ada menteri sekretaris negara dan menteri sekretaris kabinet. Selain itu, untuk mengkoordinasikan aktifitas para menteri juga sudah ada tiga menteri koordinator, plus menteri perencanaan pembangunan nasional yang langsung berada di bawah presiden.

Maka wajar bila ada kecurigaan, pemberian hak istimewa kepada Luhut sesungguhnya mengandung unsur bisnis sangat kental. Ini karena Luhut adalah partner Jokowi di wood based industry PT Rakabu Sejahtera yang berorientasi. Pasar utama perusahaan ini adalah Amerika Serikat.

Nah, dengan struktur yang makin ruwet itu, pemerintah agaknya bakal kedodoran dalam melakukan aksi gerak cepat menghadapi memburuknya perekonomian Asia. Bila dilihat situasi ekonomi Cina, gerak itu sudah sangat mendesak.  Baayangkan, dalam lima tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi Cina merosot 30% menjadi 7,5% tahun lalu.

Tanpa langkah terpadu yang cepat, efektif dan efisien, jangankan memenangi pertarungan ekonomi di luar negeri, di dalam negeri pun bisa kalah. Ingat, dengan jumlah penduduk mendekati 250 juta jiwa, perekonomian Indonesia kini juga diincar para eksportir mancanegara. Apalagi mereka juga melihat kontrol terhadap barang selundupan di Indonesia  sangat longgar. Sekarang ini menemukan barang elektronik selundupan bahkan lebih mudah ketimbang yang asli. 

Jadi tak mengherankan bila Indonesia, di mata mereka, adalah sasaran empuk untuk menutupi atau mengurangi kerugian akibat mendinginnya ekonomi Cina, termasuk oleh para eksportir Cina sendiri. Salah satu bukti paling kongkrit sekarang ini adalah makin merebaknya barang-barang murah dari Cina. Produk Cina seperti telpon genggam, komputer, TV, alat pertanian, alat pertukangan dan sebagainya sekarang ini seolah bisa ditemui di setiap sudut Indonesia.

Ironisnya, para pengusaha di Indonesia kini sedang dibuat puyeng oleh munculnya berbagai peraturan dan kebijakan baru pemerintah. Di antaranya adalah para pengusaha perikanan dan nelayan kecil, yang tengah menghadapi larangan pemerintah melakukan alih muatan kapal di tengah laut dan penggunaan jaring trawl. Mereka yang mengoperasikan kapal-kapal besar eks asing kini harus menanggung rugi karena izin operasi armada mereka dibekukan sejak 3 Novermber 2014 sampai akhir April mendatang.

Pembekuan izin ini berlaku atas 1.132 kapal berukuran di atas 30 gross ton milik 187 perusahaan. Selama dibekukan, pemerintah melakukan audit untuk membuktikan bahwa kapal-kapal tersebut tidak dipakai untuk melakukan kejahatan. Mencuri ikan demi kepentingan asing, penipuan pajak, menyelundupkan BBM bersubsidi atau barang illegal lain ke luar atau ke dalam negeri adalah kejahatan yang paling diincar oleh menteri kelautan dan perikanan Susi Pudjiastuti.

Sementara itu perusahaan-perusahaan tambang mineral seperti batubara, emas dan perak dibuat pusing oleh kewajiban untuk membangun smelter di Indonesia. Lalu, mereka yang berorientasi ekspor diwajibkan memakai L/C untuk meyakinkan pemerintah bahwa dana hasil ekspor mereka benar-benar ditransfer ke perbankan dalam negeri. Pemeritah tak peduli  meski pihak pembeli di luar negeri enggan melakukan hal ini karena lemahnya penegakan hukum di Indonesia.

Kenyataan di atas berbanding terbalik dengan keinginan dunia usaha. Yakni agar pemerintah memberi insentif dan membangun suasana yang kondusif untuk meningkatkan daya saing para pelaku ekonomi nasional di pasar dalam negeri maupun luar negeri. Maka tak ada yang aneh bila nanti perekonomian Cina terus terbatuk-batuk, Indonesia bakal tersungkur.

Tag: ekonomi cina melemahkenyamanan bisnisimpor barang china

Sumber Foto: 

berbagai sumber (Ist)Gigin Praginanto

Pemimpin Redaksi 227 articles

Analis dan penanggungjawab redaksi IndonesianReview.com

– Berita TerkaitIndonesia Awas! Benturan antar kelas 3 days 25 min agoPaket Kebijakan Ekonomi X: Apa Wujud Kongkrit Dukungan untuk UKM? Leadership on Economy 2 weeks 4 days agoAnother Impact of Foreign Debt for Development of Infrastructure in Indonesia External debt management awareness 4 weeks 1 day agoBerita TerbaruIndonesia Awas! Benturan antar kelas 3 days 25 min agoPaket Kebijakan Ekonomi X: Apa Wujud Kongkrit Dukungan untuk UKM? Leadership on Economy 2 weeks 4 days agoA Limited Assignment for a Special Team Monitoring the work of BIN 2 weeks 6 days agoAnother Impact of Foreign Debt for Development of Infrastructure in Indonesia External debt management awareness 4 weeks 1 day agoDari Cina kembali ke Cina Ekonomi kian muram 1 month 1 day agoWhat is the Urgency of Revision on KPK Law? KPK Law 1 month 1 day agoKPK Dibabat Bila pengusaha dan politisi kompak 1 month 2 days agoPencarianLiputan KhususInsight10 TerpopulerSeminggu/Sebulan/All TimeTweet TerbaruTweets by @IndoReviewTagsIslam   Singapura   Emil Salim   WTO   jakarta macet   Ben Carson   Bahrun Naim   Imlek   Krisis Pangan   Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi   RAPBN 2016   Flight Information Region   Paket layanan medis   Pra Peradilan   tolikara   Riza Cholid   Jamaah Islamiyah   Manusia Pejuang   kurs rupiah   Ikahi   inflasi AS   KASAD   manipulasi indeks   Reformasi Polri   Layanan Priok   Vonis Christoper   impor kedelai   China   Bank Ina   Jokow Memilih MenteriPenulis Previous PostLiputan KhususNext Post EKONOMIMakro Ekonomi

Link

Sindikasi

Shop

Apps

IndonesianReview.com Newsletter

Stay informed on our latest news!Previous issues

Menu

2015 TirtaAmarta.com. Dilindungi Hak Cipta.Indonesian Review

Aly Chiman

Aly Chiman is a Blogger & Reporter at AlyChiTech.com which covers a wide variety of topics from local news from digital world fashion and beauty . AlyChiTech covers the top notch content from the around the world covering a wide variety of topics. Aly is currently studying BS Mass Communication at University.

Leave a Reply

Your email address will not be published.