Miskin Listrik, Salah Siapa? | Indonesian Review

14 – Started Mar 4th, 2016 – Ended Sep 15th, 2016The seed for Wide00014 was:

– Top ranked pages (up to a max of 100) from every linked-to domain using the Wide00012 inter-domain navigational link graph

— a ranking of all URLs that have more than one incoming inter-domain link (rank was determined by number of incoming links using Wide00012 inter domain links)

— up to a maximum of 100 most highly ranked URLs per domain The seed list contains a total of 431,055,452 URLsThe seed list was further filtered to exclude known porn, and link farm, domainsThe modified seed list contains a total of 428M URLs

April 22, 2016       March 26, 2015      19:39You are hereEKONOMIIndustri Miskin Listrik, Salah Siapa?Daniel RudiEKONOMIIndustriLike

73133001 Gonjang ganjing Pembangkit Listrik IndonesianReview.com — Pemerintah harus cermat dalam memilih teknologi dan sumber energi untuk membangun pembangkit listrik. Jangan hanya untuk kepentingan orang-orang tertentu, ketahanan energi, kebersihan udara, efesiensi, dan efektivitas dilupakan.

Salah satu indikator kemajuan suatu bangsa adalah jika elektrifikasi per kapitanya mencapai 800 watt. Bagaimana dengan Indonesia? Masih jauh. Elektrifikasi per kapita Indonesia hanya 210 watt.

Di antara negara-negara ASEAN, Indonesia berada di peringkat ke-6, di bawah Vietnam. Kalau dibandingkan dengan China yang mencapai 875 watt, jelas Indonesia jauh tertinggal. Jangan Anda bandingkan lagi dengan negara maju, bisa-bisa sakitnya tuh di sini.

Makanya, pembangunan pembangkit listrik baru mutlak diperlukan untuk kemajuan bangsa. Bagaimana mau meningkatkan industri, kalau listrik saja susah didapat? Generasi muda juga akan mengalami kesulitan untuk menjadi orang pintar, karena minimnya ketersediaan listrik di Tanah Air.

Tentu saja, Indonesia tidak boleh asal membangun pembangkit listrik. Pemilihan teknologi dan sumber energinya harus tepat. Kita tentu tak menginginkan pemilihan teknologi dan energi seperti zaman Orde Baru, yang kerap mengadopsi kepentingan orang-orang tertentu.

Karena itu, jadi aneh rasanya kalau pembangunan pembangkit listrik baru sebesar 35 ribu megawatt yang dipilih adalah teknologi dari China. Sebab, bukan apa-apa, kegagalan pembangunan pembangkit listrik 10 ribu megawat tahap I dan II karena menggunakan teknologi China. Proyek ini banyak menggunakan energi batu bara.

Asal tahu saja, batu bara merupakan energi yang tidak dapat diperbaharui serta tidak ramah lingkungan. China saja sudah kewalahan menghadapi dampak dari penggunaan batu bara, seperti hujan asam. Kok, kita masih terus menggunakannya?

Padahal porsi batu bara sudah mencapai 52% dari sumber energi yang digunakan. Porsi sebesar itu saja sudah tidak bagus untuk ketahanan energi. Kalau ditambah lagi bakal makin runyam.

Kita sebenarnya masih banyak memilki sumber energi. Bahkan sumber energi tersebut dapat diperbaharui dan ramah lingkungan. Salah satunya adalah limbah kelapa sawit. Menurut Direktur Bioenergi Kementerian ESDM, Dadang Kusdiana, potensi limbah kelapa sawit mencapai 12 ribu megawatt. Sayangnya, energi tersebut belum banyak dimanfaatkan. Itu disebabkan investor tidak tertarik untuk membangun, karena PLN membeli listrik dengan harga rendah.

Pabrik kelapa sawit banyak terdapat di Sumatera. Ironisnya, krisis listrik terjadi di sana. Untuk menangulangi krisis listrik di Sumatera dibutuhkan listrik hanya sebesar dua ribu megawatt, suatu angka yang tidak terlalu besar kalau dibandingkan dengan potensi dari limbah kelapa sawit.

Alih-alih menggunakan limbah kelapa sawit, pemerintah tetap berkeras untuk menggunakan PLTU dengan sumber batu bara. Memang Sumatera memiliki cadangan batu bara dalam jumlah besar, tapi kenapa harus terpaku hanya pada batu bara, sedangkan sumber energi dapat diperbahuri, murah dan ramah lingkungan tersedia.

Sebagian pembangunan PLTU batu bara di Pulau Sumatera dikerjakan oleh PT Bukit Asam (PT BA) bergabung dengan perusahaan swasta dari China. Seperti, PLTU Banjar Sari. PLTU berkapasitas 2 x 110 megawatt ini, setelah lama dibangun baru dapat beroperasi bulan ini.

Tidak puas hanya dengan satu proyek, kembali PT BA bekerja sama dengan perusahaan dari China membangun PLTU lebih besar, yakni berkapasitas 2 x 620 megawatt, yang dinamakan PLTU Banko Tengah. Rencananya PLTU tersebut akan beroperasi pada tahun 2018.

Selain limbah kelapa sawit, sumber energi dari air bahkan lebih besar. Menurut Anggota Dewan Energi Nasional, Tumiran, potensi air yang dapat dikembangkan secara kontinyu sebesar 25 ribu megawatt.

Air merupakan sumber energi untuk PLTA. Selain ramah lingkungan, PLTA juga murah dalam biaya operasionalnya. Hal itulah yang merangsang PT Vale Indonesia, Tbk yang berada di Pulau Sulawesi, untuk menggunakannya.Tidak tanggung-tanggung mereka telah membangun 3 PLTA. Pertama, PLTA Larona, beroperasi tahun 1979,memproduksi daya listrik rata-rata sebesar 165 megawatt. Kedua, PLTA Balambano beroperasi tahun 1999 memproduksi listrik rata-rata sebesar 110 megawatt. Ketiga, PLTA Karabbe, beroperasi sejak tahun 2011, meproduksi listrik rata-rata sebesar 90 megawatt.

PT Vale Indonesia,Tbk, sebagai perusahaan tambang nikel memang membutuhkan energi listrik untuk smelter mereka.

Tapi uniknya, di pulau yang sama dengan PT Vale Indonesia,Tbk. PT Bosowa Energi sejak tahun 2005, membangun PLTU dengan menggunakan sumber energi dari batu bara. PLTU Jeneponto I, itulah nama proyeknya. PLTU tersebut berkapasitas 2 x 100 megawatt dan bekerjasama dengan perusahaan China. Setelah lama terhambat, proyek tersebut beroperasi di akhir tahun 2012.

Tidak puas dengan satu proyek, PT Bosowa Energi , bulan ini, melanjutkan lagi proyek tersebut dengan nama proyek PLTU Jeneponto II. PLTU berkapaistas 2 x 125 megawatt ini juga berkerjasama dengan perusahaan China.

Kita berharap, pemerintah harus cermat dalam memilih teknologi dan sumber energi untuk membangun pembangkit listrik. Jangan hanya untuk kepentingan orang-orang tertentu, ketahanan energi, kebersihan udara, efesiensi, dan efektivitas dilupakan.

Itulah sebabnya, jika proyek 35 ribu megawatt bernasib sama seperti pendahulunya, masyarakat dan industriawan akan kembali kecewa. Lupakan saja pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, bila masalah krisis listrik saja tidak dapat dipecahkan.

Tag: krisis listrikpembangkit listriksumber energiramah lingkungan

Editor: 

Satrio AN

Sumber Foto: 

energitoday.com (Pembangkit Listrik Tenaga Biogas yang memanfaatkan limbah kelapa sawit di Kabupaten Belitung Timur)Daniel Rudi

Analis 128 articles

Analis IndonesianReview.com

– Berita TerkaitKuasa Besar Pengemplang Pajak Panama dan Offshore 6 days 16 hours agoRumah Pantai Mddel pembangunan maritim yang seharusnya diusung Jokowi 1 week 1 day agoKota Bintang Lima, Penduduknya Kaki Lima Mimpi Ahok 1 week 1 day agoBerita TerbaruThe Melanesian Racial issue Freedom movement of Papua is meaningless 15 hours 14 min agoSusahnya Melawan Pencoleng Ikan Aksi Uni Eropa 2 days 15 hours agoJokowi Berburu di Eropa Ekonomi nasional 2 days 15 hours agoThe Psychological Warfare by the WLMWPPapua affairs2 days 16 hours agoNeed a Bigger Blow to Terrorist Ammending Terrorism Act 6 days 8 hours agoKuasa Besar Pengemplang Pajak Panama dan Offshore 6 days 16 hours agoRumah Pantai Mddel pembangunan maritim yang seharusnya diusung Jokowi 1 week 1 day agoPencarianLiputan KhususInsight10 TerpopulerSeminggu/Sebulan/All TimeTweet TerbaruTweets by @IndoReviewTagsmandiri   Bursa Saham AS   Indonesia Negara Gagal   Bursa   Karya Ilmiah Jiplakan   Antikorupsi   pejuang gam   Perekonomian   konflik parpol   Kenaikan tunjangan dan gaji   Paket layanan medis   Mie Instan   kasus Bank Century   Renegosiasi   Abraham Lincoln   Adolf Hitler   cinta bangsa   UMKM   Ekonomi Internasional   Radikalisme   Bursa Cina   Sumpah Pemuda   Performa perekonomian   penurunan ekspor   Rekening Gendut   Manusia Pejuang   Yasonna H Laoly   pendulum nusantara   perusakan lingkungan   Tenaga KerjaPenulis Previous PostEKONOMIBisnisNext Post EKONOMIKeuangan

Link

Sindikasi

Shop

Apps

IndonesianReview.com Newsletter

Stay informed on our latest news!Previous issues

Menu

2015 TirtaAmarta.com. Dilindungi Hak Cipta.Indonesian Review

Aly Chiman

Aly Chiman is a Blogger & Reporter at AlyChiTech.com which covers a wide variety of topics from local news from digital world fashion and beauty . AlyChiTech covers the top notch content from the around the world covering a wide variety of topics. Aly is currently studying BS Mass Communication at University.

Leave a Reply

Your email address will not be published.