Umar Lubis dan Aksi Seribu Marawis

14 – Started Mar 4th, 2016 – Ended Sep 15th, 2016The seed for Wide00014 was:

– Top ranked pages (up to a max of 100) from every linked-to domain using the Wide00012 inter-domain navigational link graph

— a ranking of all URLs that have more than one incoming inter-domain link (rank was determined by number of incoming links using Wide00012 inter domain links)

— up to a maximum of 100 most highly ranked URLs per domain The seed list contains a total of 431,055,452 URLsThe seed list was further filtered to exclude known porn, and link farm, domainsThe modified seed list contains a total of 428M URLs

May 5, 2016       May 25, 2015      12:20You are hereEKONOMIBisnis Umar Lubis dan Aksi Seribu MarawisAlfi RahmadiEKONOMIBisnisLike

52252701 Internasionalisasi kekayaan estetika musik klasik Indonesia IndonesianReview.com — Keragaman budaya Indonesia yang telah bersentuhan dengan berbagai peradaban dunia berabad-abad lampau turut membentuk kekayaan estetika karya musik khas tersendiri.

Dalam pandangan etnomusikolog  Indonesia,  Franky  Raden, kekayaan estetis tersebut bahkan turut mewarnai inovasi karya musik di Tanah Air berkembang paling intensif di dunia, hingga menjadi keunggulan komparatif. Tentu, jika dikelola secara serius dan tepat, keunggulan komparatif tersebut berefek ganda untuk kemajuan negeri.

Doktor etnomusikologi yang memperdalam ilmu musik di AS, Kanada, Singapura, Australia dan Perancis itu membagi efek tersebut dalam tiga aspek. Terdiri dari aspek estetik budaya, ekonomi kebudayaan, dan politik kebudayaan.

Dari aspek estetika budaya, kekayaan budaya musik Indonesia yang berkembang hampir 3.000 tahun lamanya itu telah membuktikan bahwa karya musik di Indonesia mampu beradaptasi dengan aliran musik apapun di negara-negara dunia. Di antara aliran musik yang paling eksklusif diolah adalah etnik  jazz dan berbagai genre kolaburasi tradisional-modern.

Sebagai aliran musik yang lahir dari AS dan berakar dari musik Afrika dan Eropa, jazz mampu dikemas para musisi kita dengan citra rasa khas Nusantara. Seperti jazz Jawa, Melayu, Sunda, Batak, Bali dan sebagainya. Kemampuan inilah yang mesti didorong, agar karya musik Indonesia ke depan semakin mampu berinovasi dalam melahirkan karya musik terbaik di dunia.

Dari aspek ekonomi kebudayaan, karena keunikan aspek estetika itu, belantika pasar seni musik di tanah air sangat bernilai jual di pasar musik internasional. Dalam hitungan Franky Raden, beragam ekspresi musikal Indonesia yang muncul sebagai sebuah unikum budaya tersebut  nilai jualnya ia taksir mencapai US$ 8 miliar. Sayang, besarnya potensi tersebut masih digenggam oleh  para musik Amerika Latin, Afrika, etnik Eropa (celtik) dan sebagainya.

Dari aspek politik kebudayaan, unikum budaya yang melekat dalam inovasi musik tersebut berpeluang menjadi soft power dari perlombaan ideologi negara di dunia melalui industri kreatifnya. Tentang politik kebudayaan ini, filsuf asal AS, Immanuel Wallerstein, sejak lama meramal bahwa kegiatan budaya bangsa menjadi media efektif dalam merebut pengaruh politik-ekonomi agar menjadi trendsetter dunia. 

Ramalan tokoh utama teoritisi strukturalis atau globalis itu benar adanya. Sebab budaya merupakan ranah yang sangat menentukan berbagai elemen dasar pada trasformasi sosial. Yaitu perubahan mendasar pada wawasan, paradigma, kebiasaan lama, pranata sosial, bahkan tata nilai. Industri Hollywood  di AS dan Bollywood di India merupakan etalase yang paling menonjol dalam hal ini. Belakangan juga gencar digenjot oleh China, Jepang, Korea Selatan dan Iran.

Nah, rumusan kebudayaan dalam inovasi karya musik anak negeri yang memiliki tiga aspek itulah pada beberapa tahun belakangan begitu getol digarap oleh industri musik di Tanah Air. Di belantika musik Indonesia, pentas Java Jazz Festival secara rutin tahunan di Jakarta adalah salah satu contoh yang paling menonjol dari hasil garapan berparadigma kebudayaan tersebut.

Umar Lubis, Ketua Umum Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi) Nahdlatul Ulama (NU) DKI Jakarta, bukanlah pengecualian pihak yang rajin menggarap keunggulan komparatif  tersebut. Pada April lalu, seniman dan promotor konser Mahir Zain ini menggagas Pagelaran Akbar berupa pentas kelompok musik mawaris.  Jumlahnya tak tanggung-tanggung, terdiri dari seribu kelompok marawis.

Uniknya, pentas “band tepuk” dimana perkusi sebagai alat musik utamanya itu diintegrasikan dengan pentas jenis musik sejenis, yaitu hadrah, qasidah, gambus dan darbuka. Nuansanya makin unik ketika pentas kolaborasi kelima aliran musik khas Timur Tengah-Islam Indonesia itu digelar dalam satu tempat dan di waktu yang bersamaan. Semuanya dilengkapi dengan koreografi dan musik khas Betawi berupa lenong dan pencak silat.

Apa jadinya, jika seribu grup marawaris menabuh ribuan jenis gendang sebagai instrumen musik utamanya dan melebur dalam ratusan perkusi. Antara lain ketipung, tamborin, syambal, kecapi, rebab, akordeon, tam, drum, bass, gitar, tamborin, gambang, seruling, tabla, harmonica, hingga biola. Belum lagi melebur dengan perkusi Tionghoa, seperti kongahyang, sukong dan tehyan pada musik lenong.

Pastinya, sentuhan orkesta tradisional itu bakal menghasilkan beragam nada, ritme dan melodi yang begitu menggigit dengan naunsa kekayaan etnis-nya. Kolaburasi unik tersebut juga turut memperkaya karakter baru dalam bermusik di Indonesia sekarang ini dimana modernitas nada diaktoniknya menyatu dalam partitur pentatonik yang kental secara klasikal.

Dengan jumlah grup musik marawis segemuk itu, kalau saja benar-benar terwujud, praktis kolaburasi musik padang pasir bercitra rasa Nusantara tersebut merupakan pentas pertama di tanah air. Sebagai pemimpinnya, Umar Lubis, bahkan terbilang memecah rekor sebagai konduktor pentas musik ‘Padang Pasir Nusantara’ terbesar dan pertama di Indonesia.

Gagasan ‘gila’ pria berdarah Batak-Mesir yang juga aktor pemeran “bapak-bapak” di berbagai sinetron berakting tinggi itu ternyata benar-benar terwujud pada 10 Mei lalu di Gedung SMESCO, Jakarta. Hanya saja gaungnya kurang menggema di Tanah Air dengan berbagai sebab.

Sebagai pihak penyelenggara, Lesbumi NU DKI Jakarta, kurang fokus dalam memperioritaskan Pagelaran Akbar seribu marawis tersebut. Selain menggelar pentas tersebut, mereka juga menyelenggarakan  pameran, seminar dan pertunjukan musik beberapa hari sebelumnya. Semua even itu dibingkai dalam Gebyar Semarak Indonesia Kreatif.

Persoalan lainnya, persiapan pentasnya begitu sempit, hanya kurang lebih sebulan. Padahal, untuk seukuran aksi memecah rekor, bukan perkara gampang memobilisasi seribu grup seni musik Timur Tengah khas Nusantara itu. Belum lagi menyelaraskan antar grup musiknya dalam satu irama di satu tempat yang sama dan di waktu yang bersamaan. Ditaksir, untuk menghasilkan hasil yang maksimal, minimal butuh persiapan setengah tahun.

Persoalan klasik, yaitu terbentur pendanaan, bukanlah pengecualian. Tapi bukan Umar Lubis  namanya kalau tidak nekat. Dengan modal seadanya, mungkin saja ia berpikir bahwa aksi seribu marawis walaupun nyatanya dipentaskan kurang dari setengahnya merupakan bentuk stimulus. Tujuan minimalisnya adalah menggugah rasa kepercayaan diri kelompok marawis di Tanah Air.

Memang, musik marawis dan sejenisnya seperti  hadrah, qasidah dan darbuka, selama ini identik dengan kaum sarungan, yaitu pesantren. Untuk tampil eksklusif masih dipandang terlalu mewah. Tentu kalah pamor dibanding aliran jazz dan pop yang sudah sedemikian luas pasarnya. Tapi Umar Lubis menggugat rasa ketidakpercayaan diri itu.

Ia begitu yakin, bahwa musik kaum sarungan juga layak tembus di pasar internasional bila terus berimprovisasi dan berinovasi. Toh, keyakinan itu sudah dibuktikan melalui sepak terjang Debu dimana dirinya beberapa kali menjadi co promotor kelompok musik padang pasir tersebut. Bahkan boleh jadi ke depannya ia berambisi membawa  Debu dan grup marawis ke Montreux Jazz di Jenewa, salah satu festival musik tertua dan terkenal di dunia yang digelar secara rutin dalam memanggungkan para musisi dunia dari berbagai genre musik.

Betapa tidak, dengan merujuk pada kekayaan khazanah estetika musik Indonesia, Umar Lubis yakin musik marawis dan sejenisnya mampu mendunia sebagaimana keyakinan Franky Raden dalam melahirkan sekaligus mementaskan Indonesian National Orchestra (INO), sebuah kelompok musik di tanah air yang getol mengkolaburasikan musik tradisional-modern.

Dalam skala global, INO telah dipentaskan di beberapa negara sebagai etalase yang menunjukkan kepada dunia tentang mutu estetis kolaborasi aliran tradisional dan modern karya musik anak negeri. Namun dalam skala lokal, Franky Raden tampaknya ingin menunjukkan kepada sesama anak negeri bagaimana sebuah transformasi kebudayaan mesti diberdayakan.

Sampai di sini, apa yang digalang Umar Lubis terhadap grup musik marawis dan ambisinya menginternasiolkan musik kaum sarungan itu menunjukkan kesamaan misi dengan Franky Raden. INO dan Orkesta Marawis dipentaskan dengan paradigma bahwa bila Barat merupakan kiblat orkesta modern, maka Timur adalah kiblat musik tradisional dimana kesemuaan unsur tradisional di dunia ini bisa diwakili oleh Indonesia.  ***

Tag: Umar LubisMarawisGrup Musik DebuOrkestaNahdlatul Ulama

Sumber Foto: 

Umar Lubis dalam pentas Seribu Marawis. Bersama Mustafa dan Daood (personil Debu), istrinya Ravelra Ruth Supit (anak artis senior Rae Sita Supit) dan Ali Kribo (percussionist, beatboxer, drummer).Alfi Rahmadi

Redaktur Pelaksana 61 articles

Analis IndonesianReview.com

– Berita TerkaitIndonesia a Current-Account Deficit, How Must We Do to Solve it? Problem in our current-account deficit 1 week 4 days agoRusak Tapi Jadi Panggung Gaya kampus melestarikan alam 1 week 4 days agoKuasa Besar Pengemplang Pajak Panama dan Offshore 2 weeks 5 days agoBerita TerbaruNegeri Bingung Data dan koordinasi kacau balau 6 days 12 hours agoExtremism and Terrorism Proxy war behind 1 week 2 days agoIndonesia a Current-Account Deficit, How Must We Do to Solve it? Problem in our current-account deficit 1 week 4 days agoRusak Tapi Jadi Panggung Gaya kampus melestarikan alam 1 week 4 days agoThe Melanesian Racial issue Freedom movement of Papua is meaningless 1 week 6 days agoSusahnya Melawan Pencoleng Ikan Aksi Uni Eropa 2 weeks 1 day agoJokowi Berburu di Eropa Ekonomi nasional 2 weeks 1 day agoPencarianLiputan KhususInsight10 TerpopulerSeminggu/Sebulan/All TimeTweet TerbaruTweets by @IndoReviewTagsperaturan pemerintah no.32 Tahun 1999   Prayut Chan ocha   upah murah   Menko Bidang Perekonomian   Green Metric Ranking   Juragan Parpol   umat Nasrani berkuasa   manipulasi indeks   Bank Perkreditan Rakyat   ATS   Polri   Neraca Perdagangan   defisit neraca anggaran   Gaikindo   Uni Soviet   dirjen pajak mundur   Strategi politik Jokowi   naik Haji   Negara Adidaya   kampus hijau   PM Singapura   Larangan Eksport   jokowi mesra dengan tni   LPSK   Tuna   Swiss   Dana Otsus Aceh   Sharing Avenue   Idul Fitri   OligarkiPenulis Previous PostEKONOMIMakro EkonomiNext Post EKONOMIKeuangan

Link

Sindikasi

Shop

Apps

IndonesianReview.com Newsletter

Stay informed on our latest news!Previous issues

Menu

2015 TirtaAmarta.com. Dilindungi Hak Cipta.Indonesian Review

Aly Chiman

Aly Chiman is a Blogger & Reporter at AlyChiTech.com which covers a wide variety of topics from local news from digital world fashion and beauty . AlyChiTech covers the top notch content from the around the world covering a wide variety of topics. Aly is currently studying BS Mass Communication at University.

Leave a Reply

Your email address will not be published.